Perbedaan Wayang Solo vs Jogja: Sabetan, Cengkok, dan Estetika Pakeliran
Perbedaan Mendasar Wayang Gaya Surakarta vs Yogyakarta: Catatan Seorang Pengamat Awam yang Belajar
Pendahuluan
Perbedaan wayang Surakarta dan Yogyakarta, sabetan Solo vs Jogja, cengkok suluk, pakeliran keraton banyak orang ingin tahu apa saja yang membedakan dua pakem besar ini. Saya menulis dari posisi awam yang sedang belajar.
Menggabungkan pengamatan pribadi, bacaan dari dokumen yang saya miliki, dan sumber-sumber yang saya tinjau (termasuk dokumen perbandingan gaya). Teks ini adalah sintesis pemahaman saya orisinal, personal, dan ditulis untuk pembaca yang ingin mengerti rasa di balik teknik.
Mengapa saya Menulis Ini
Saya bukan akademisi formal bidang pedalangan, tetapi saya seorang pembelajar dan pengamat yang menggemari wayang. Saya telah membaca catatan, artikel, dan dokumen perbandingan gaya, lalu meresapinya dengan pengalaman menonton dan berdialog dengan beberapa dalang dan pengrawit lokal.
Dari kombinasi bacaan dan pengamatan itu, saya menulis artikel ini bukan untuk mengklaim kebenaran absolut, tetapi untuk membagi pemahaman dengan hati terbuka dan penuh hormat tentang perbedaan gaya Surakarta (Solo) dan Yogyakarta (Jogja), khususnya pada aspek sabetan, cengkok/suluk, dan struktur pakeliran. Informasi teknis dan sebutan rinci saya gabungkan dengan rujukan dokumen sebagai bahan rujukan.
Latar Singkat — Dua Pakem, Dua Ruang Estetika
Sejarah dan konteks kraton memainkan peran besar. Setelah pemisahan politik dan budaya yang mewarnai Jawa pasca abad ke-18, kedua pusat budaya yaitu Surakarta dan Yogyakarta mengembangkan preferensi artistik masing-masing. Hal ini bukan sekadar variasi estetika namun ini adalah wujud pilihan gaya hidup, bahasa istana, dan tata rasa yang diwariskan oleh generasi dalang, sinden, dan pengrawit. Singkatnya, kalau Surakarta meneguhkan struktur, Yogyakarta merawat nuansa. Perbedaan itu kemudian meresap ke sabetan, suluk, cara menyusun jejer, pemilihan gendhing, dan rancakan gamelan.
Sabetan - Bahasa Tubuh yang Berbicara
Prinsip Dasar Sabetan
Bagi saya, sabetan adalah bagian paling magis dari wayang lewat tangan dalang, tokoh-tokoh kulit terbit sebagai entitas yang "bernyawa". Prinsip yang saya tangkap adalah hemat gerak, adalah gerak seminim mungkin namun bermakna. Sabetan bekerja di tingkat silhouette, setiap sudut, jeda, atau tarikan akan memberi informasi watak dan situasi.
Gaya Surakarta - Tegas dan Berwibawa
Pengamatan saya gaya sabetan Surakarta menonjolkan ketegasan. Gerak diarahkan untuk menegaskan profil tokoh dan sering kali "memahat" momen pose yang monumental. Ketepatan waktu, segi simetri, dan pengaturan sudut bayangan menjadi patokan.
Dalam adegan heroik, misalnya, sabetan Solo terasa padat, tegas, dan menggambarkan kewibawaan tanpa banyak ornamen kecil. Ini sejalan dengan gagasan estetika kerajaan yang menampilkan kemegahan dan keteraturan.
Gaya Yogyakarta — Lembut, Berlapis, dan Ngrasakake
Sementara itu, sabetan di Jogja memberi ruang bagi adegan melalui gerak kecil, pengulangan lembut, dan micro-gesture yang mengundang penonton untuk "merasakan". Sabetan Jogja sering kali mempermainkan ritme berulang, memberi nuansa melankolis atau kemayu pada adegan panjang.
Pada sela gerak ada jeda, hal ini memanang dibuat, sehingga penonton punya waktu meresap emosi. Ini bukan kekurangan efisiensi malahan justru itu adalah strategi estetis untuk menggali kedalaman rasa.
Cengkok dan Suluk - Suara Sebagai Rasa
Fungsi Suluk
Suluk bukan sekadar melodi: ia adalah narasi bernyanyi yang menerjemahkan batin tokoh. Cengkok menjadi ornament yang menandai watak, suasana, dan alur emosional.
Warna Vokal Surakarta
Dalam bacaan dan wawancara yang saya lakukan, suluk Solo cenderung lugas, berwibawa, dan tempo-nya terjaga. Cengkoknya tidak berlingkar panjang kemudian laras atau nada dilontarkan dengan penuh kehormatan.
Efeknya yang ditumbulkan nuansa panggung terasa agung, formal, dan terstruktur. Hal ini sesuai dengan pengutamaan bentuk yang jelas dan tegas dalam pakem Surakarta.
Warna Vokal Yogyakarta
Jogja menampilkan suluk yang lebih menggambarkan suasana, dengan cengkok melengkung, ornamentasi panjang, dan pengolahan nada yang lebih kaya cengkok.
Sindhen sering berperan lebih ekspresif, menyisipkan irama melankolis yang membuat adegan batin terasa hidup. Bila Anda mencari nuansa lirih dan penghayatan melodi, suluk Jogja lebih menonjol.
Kepyak (Keprak) dan Cempala - Ritme yang Membingkai Cerita
Kothak, kepyak, dan cempala merupakan elemen teknis yang sangat praktikal, namun sekaligus simbolis. Bunyi kepyak dan pola cempala adalah aba-aba yang mengikat seluruh pengiring untuk bereaksi.
-
Jogja: umumnya memakai satu kepyak, bunyi tunggal yang jelas memberi rasa pusat ritme yang tenang.
-
Solo: sering memakai keprak berlapis (4–9 lempeng), menciptakan lapisan ritmik beragam yang memperkaya tekstur musik.
Perbedaan ini bukan sekadar teknik namun menentukan cara dalang "memerintah" jalan irama, apakah dengan satu napas sederhana atau dengan sinfonia ritmik yang berlapis. Saya melihat bagaimana pilihan ini memengaruhi keseluruhan rasa/mood. Solo cenderung memberi impresi tegas dan dinamis, Jogja memberi nuansa tunggal yang intim.
Struktur Pakeliran pada Jejer, Janturan, Limbukan
Jejer dan Janturan
Jejer (frase pembuka) dan janturan (narasi pembuka) menunjukkan perbedaan dramaturgi. Tradisi Surakarta menempatkan jejer hanya pada pembukaan dengan janturan yang padat dan runtut sebuah pembukaan yang memberi bingkai jelas.
Tradisi Jogja lebih sering memanfaatkan pengulangan atau variasi jejer, memberi dalang keleluasaan untuk bermain dan menekankan rasa tertentu pada beberapa titik. Perbedaan ini berimbas pada ritme narasi. Kesimpulan rasa Solo terasa lebih "maju-lurus", Jogja lebih "bergelombang".
Limbukan dan Adegan Selipan
Limbukan adalah adegan selingan yang kerap berisi ritual atau humor, diposisikan berbeda dalam kedua pakem. Solo cenderung menempatkan limbukan pada titik-titik tetap, menjaga kesakralan panggung. Jogja lebih fleksibel, memungkin limbukan muncul sewaktu-waktu sebagai penyeimbang suasana. Ini memengaruhi durasi, densitas, dan rasa keseluruhan pagelaran.
Gamelan, Laras, dan Warna Sonik
Tumbuk dan Wilah
Salah satu pengetahuan teknis yang saya pelajari sejak duduk di SMKI pada tahun 2004 adalah soal tumbuk laras—jarak nada antara laras sléndro dan pélog. Perbedaan ini sangat mendasar:
Laras Surakarta sering memakai tumbuk 6 sehingga nada terasa lebih tinggi satu wilahan; suara gamelan pun terdengar lebih cerah.
Laras Jogja banyak memakai tumbuk 5, membuat warna nada terasa lebih rendah dan hangat.
Pengalaman langsung ini mengajarkan saya bahwa perbedaan ini bukan soal baik-buruk, melainkan pilihan estetis yang menyokong rasa panggung yang berbeda, sesuai dengan filosofi kraton masing-masing.
Rancakan dan Visual Gamelan
Rancakan (meja/kerangka alat) di Solo biasanya dihias ukiran dan prada menegaskan kemegahan. Sementara di Jogja cenderung lebih sederhana menonjolkan fungsi, bukan ornamen. Visual rancakan membantu membentuk pengalaman menonton, perbedaan Solo memberi impresi istana, dan rancaakn Jogja memberi kesan keramah-tamahan.
Repertoar Tokoh dan Bahasa Panggung
Saya juga mempelajari bahwa beberapa tokoh muncul atau tidak muncul dalam repertoar satu pakem, misalnya Antasena dan Wisanggeni lebih sering tampil di Jogja, sementara pakem Surakarta klasik tidak selalu memasukkan keduanya.
Hal Ini menunjukkan bahwa setiap pakem mempertahankan "kanon" cerita yang sedikit berbeda, menyesuaikan dengan selera dan fungsi budaya masing-masing. Selain itu, ragam bahasa panggung (krama/ngoko), frasa bagongan, dan sapaan menunjukkan nuansa sopan santun yang melekat pada tradisi istana masing-masing.
Refleksi Pribadi - Kesan Seorang Pembelajar
Saya menyukai kedua pakem dengan cara berbeda. Ketika menonton Surakarta saya merasa terhormat, karena ada rasa teratur dan agung, seperti memasuki ruang resmi di mana segala sesuatu ditata rapi.
Pada sisi lain, menonton gaya Jogja adalah pengalaman mendalam. Saya merasa diundang untuk meraba-raba emosi, mengikuti lekuk suluk dan sabetan kecil yang menyentuh.
Sebagai “awam yang masih belajar”, saya belajar bahwa kecintaan pada satu gaya tidak harus menghapus apresiasi terhadap gaya lain. Sebaliknya, pengertian yang lebih luas membuat saya mampu mengapresiasi bagaimana teknik kecil sebuah kepyak, satu cengkok, atau jeda sabetan mampu mengubah cara cerita menyentuh penonton.
Pesan untuk Pelestarian dan Pendidikan
Dari bacaan dan dialog dengan praktisi saya menyusun beberapa gagasan:
-
Pendidikan yang kontekstual: Pelatihan dalang dan pengrawit harus memasukkan sejarah pakem, filosofi estetika, dan praktik teknis. Bukan sekadar teknik mekanis.
-
Dokumentasi terintegral: Rancangan gamelan, pola keprak, naskah janturan, dan contoh sabetan perlu didokumentasikan (audio, video, transkripsi) agar regenerasi lebih kaya.
-
Pertukaran antar-pakem: Workshop lintas-pakeliran memperkaya pengetahuan, menjadikan suatu apresiasi. Dalang Solo bisa belajar keluwesan Jogja, dan dalang Jogja bisa menguji disiplin Solo dengan tanpa mengaburkan identitas masing-masing.
-
Media edukasi publik: Artikel seperti ini, video pendek dengan caption edukatif, dan sesi tanya-jawab di komunitas bisa menumbuhkan apresiasi publik.
Kesan dan Pesan (Penutup Pribadi)
Saya menulis ini karena cinta pada sabetan yang memukau, pada suluk yang menyayat, dan pada kothak serta keprak yang berbunyi sebagai denyut tradisi. Surakarta dan Yogyakarta adalah dua napas budaya Jawa yang saling melengkapi.
Menjaga keduanya berarti menjaga ragam rasa dan kebijaksanaan yang berbeda namun satu tujuan mendidik, menghibur, dan meneguhkan identitas.
Pesan saya sederhana, mari kita pelihara kedua pakem ini.
- Hargai yang teatrikal dan yang kontemplatif
- Ajarkan teknik dengan konteks
- Dokumentasikan dengan teliti, dan,
- Bawa wayang ke generasi muda dengan bahasa yang mereka pahami
Alasan pesan ini, agar budaya lestari oleh generasi penerus dan tetap menjadi sebuah tontonan yang membawa tuntunan. Baca juga artikel saya Mengenal Wayang Gunungan Lengkap Makna, Filosofi dan Simbol Kosmologi Jawa.
Catatan Sumber:
Teks ini merupakan sintesis pemahaman pribadi, refleksi, dan pengalaman mendalam saya sebagai pengamat wayang yang terdidik.
Pengetahuan teknis mengenai pakem (terutama perbedaan Tumbuk Laras pada Gamelan Surakarta dan Yogyakarta) didasarkan pada pendidikan formal yang saya terima di SMKI sejak tahun 2004 dan observasi lapangan.
Data dan perbandingan detail lainnya (Sabetan, Keprak, Repertoar Tokoh, dan Estetika Kraton) juga diperkaya melalui tinjauan terhadap berbagai dokumen studi dan penelitian, termasuk referensi Dokumen Penelitian Perbandingan Gaya Keraton yang saya miliki.
