Wayang Kontemporer: Menjaga Ruh Pakem dan Menanggapi Zaman dalam Seni Pedalangan

Wayang Kontemporer: Menjaga Ruh Pakem dan Menanggapi Zaman dalam Seni Pedalangan

Daftar Isi

Wayang Kontemporer: Inovasi Dalang Muda dalam Melestarikan Pakem




Pagelaran wayang merupakan seni yang mengikuti perkembangan jaman. Kalimat itu memiliki arti yang sangat kompleks. Wayang kulit, telah turun temurun dilestarikan, dijaga dan dinikmati oleh masyarakat, tidak hanya untuk hiburan saja, nyatanya pagelaran wayang kulit menyampaikan pesan, nilai-nilai moral yang berhubungan dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. 

Lakon pada pertunjukan, juga disisipkan dengan kejadian, keadaan, dan suasana pada kehidupan nyata, membuat opini dari kisah dan kejadian, namun banyak juga solusi yang bisa didapatkan.

Wayang tergantung oleh sang dalang, kemampuan dalam mengikuti jaman, tanpa mengubah fungsi dan apa pakem dalam pertunjukan. Berkembang boleh namun jangan sampai meninggalkan dasar dasar paugeran, dan bagaimana seharusnya etika pemain dan budaya itu sendiri. 

Kesenian agung ini bisa luwes, namun juga akan mengalami kerusakan jika seniman tidak bisa membawa dengan kaidah kaidah dalang. Miris juga rasanya lewat media, terkadang kewibawaan panggung, keanggunan warangana dan etika dalang kian menjauh dari nama dan arti keagungan seni. 

Apa akan hilang makna seni ini, mengingat dari leluhur seni juga sarana untuk membawa arti kehidupan.

Prinsip Leluhur dan Tanggung Jawab Moral Seniman

Ngeli Oleh, Ning Aja Nganti Keli: Filosofi Kehati-hatian

Filosofi Jawa mengajarkan kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan. Pesan ini harus dipegang teguh oleh setiap insan seni: boleh berenang dalam arus tapi jangan terbawa oleh arus (ngeli oleh, ning aja nganti keli), inilah pesan leluhur yang berbunyi "Ngana ya ngana, ing aja ngana" (jadilah dirimu sendiri, tapi jangan sampai meninggalkan jati diri). 

Kita boleh, dan bebas berekspresi mengikuti jaman, tapi juga hati-hati dalam bertindak. Kenapa? Sesuatu hal yang terlalu, biasanya akan membuat lupa dan lalai.

Tanggung jawab ini berada di pundak kita semua. saya sebagai seniman, dengan hormat juga meminta kepada seniman yang lain, terutama generasi penerus, supaya menjaga kelesatrian kesenian adi luhung ini, tanpa merusak dan mengubah makna dari budaya itu sendiri. 

Budaya Jawa itu kompleks, tidak hanya sekedar iringan gamelan, tidak sekedar tarian, dan nyanyian saja—namun, etika, norma, nilai serta kewibawaan, semua terkandung-tersirat didalamnya. Bila rusak hilang budaya, maka jati diri bangsa akan begitu juga.

Memperkuat Akar Pakem melalui Perspektif Tesis

Dalam catatan pribadi ini, sejak membaca banyak literatur dan tesis tentang wayang kontemporer, saya makin yakin bahwa apa yang kita pegang yakni pakem, paugeran, dan etika, adalah bukan sekadar aturan kaku, melainkan akar yang memberi makna pada setiap gerak dan kata. 

Wayang boleh berubah bentuk; tetapi bila akar lepas, pohon pun rubuh. Oleh sebab itu, izinkan saya menguraikan dengan lebih padat dan lugas bagaimana inovasi dalang muda bisa berjalan selaras dengan pelestarian pakem, serta menyarikan praktik praktis yang dapat membantu para seniman menjaga martabat pagelaran.

Wayang adalah cermin: ia memantulkan kondisi sosial, moral, dan psikologis komunitasnya. Ketika dalang menyisipkan peristiwa kontemporer atau menyelaraskan bahasa agar mudah ditangkap kawula muda, ia sesungguhnya meneruskan tradisi lama, yaitu membuat cerita menjadi relevan. 

Perbedaannya kini adalah medium dan durasi: audiens modern punya rentang perhatian berbeda, dan platform digital menambah tekanan untuk tampil cepat dan mencolok. Tantangan utama bukan hanya soal estetika, melainkan menjaga agar pesan tetap tajam dan etis.

Dalang memegang peran strategis. Kepiawaiannya membaca zaman sekaligus menjaga paugeran menentukan apakah inovasi menjadi pengaya atau malah merusak. Ada pepatah leluhur yang selalu saya ulangi: “ngeli oleh, ning aja nganti keli” artinya boleh mengikuti arus, tetapi jangan sampai hanyut. Pesan ini sederhana namun amat penting: inovasi harus sadar diri; kebebasan berekspresi mesti dibarengi tanggung jawab budaya.

Inovasi Dalang Muda: Antara Bungkus dan Kue

inovasi dalang muda jaman sekarang, tidak hanya garab materi namun penambahan properti seperti kolaborasi dengan alat musik modern, pencayahayaan dan busana memperindah seni wayang. Bentuk wayang untuk sekedar penambahan tokoh juga mengalami perkembangan, namun sekali lagi jangan sampai terlalu melenceng.

Metafora Kue dan Daun Pisang: Prioritas Isi

Generasi dalang muda membawa energi, imajinasi, dan keberanian untuk bereksperimen. Praktik yang sering terlihat adalah penekanan pada “bungkus” , tata cahaya, gimmick visual, atau tokoh baru demi sensasi sementara “kue”nya, yakni pesan dan wejangan, dikesampingkan. 

Kita harus ingat metafora sederhana: bungkus boleh cantik, tetapi kue tetaplah yang memberi rasa. Bentuk (daun pisang) tidak boleh menyalip isi (kue). Inovasi tanpa isi sama seperti bungkus cantik tanpa kue; penonton akan hadir, tetapi hakikat mendasar wayang sebagai tuntunan hidup akan hilang.

Dalam tesis tersebut, beberapa dalang besar seperti Slamet Gundono memberi contoh nyata: ia menciptakan bentuk-bentuk pementasan non-konvensional (wayang suket, wayang tanah, kolaborasi teater dan sastra) untuk menggambarkan bahwa ketika zaman tidak menentu, “nek jamane edan, dalange kudu melu edian” , cara pementasan pun harus menyesuaikan. 

Prinsip ini menguatkan argumen Panjenengan bahwa dalang muda boleh bereksperimen; namun eksperimen itu mesti membawa isi (inti pesan) bukan sekadar bungkus. Contoh-contoh Gundono menunjukkan bagaimana material baru (suket, tanah, barang sehari-hari) dipakai untuk memperluas imajinasi penonton tanpa menghilangkan fungsi moral wayang.

Garap lakon pedalangan juga bisa disesuaikan, termasuk durasi dan naskah. Sehingga kawula muda akan tertarik dan yang sepuh (tua) juga merasa senang. Pesan dan nasihat hendaknya juga harus tersampaikan, karena ini lah inti daari pertunjukan ini.

Pakem sebagai Lingkaran dan Etika Publikasi

Tesis memperkenalkan gagasan variabel adaptasi musik, ruang, cerita, material (wayang), dan bahasa sebagai “dorongan” yang merentangkan lingkaran pakem. Ini sangat cocok dengan sikap Panjenengan: membolehkan perkembangan tetapi tidak menghapus dasar paugeran. 

Kita bisa membaca inovasi sebagai penyesuaian pada variabel-variabel ini. Misal kolaborasi musik modern yang menjadi aksen (bukan menggantikan gamelan), penggunaan pencahayaan sebagai penguat suasana (bukan sebagai gimmick yang meniadakan suluk), atau pengurangan durasi (padat). 

Inovasi ini agar audiens muda terlibat, sambil tetap menjaga suluk dan pesan. Dengan model ini, dalang muda bisa menguji bentuk baru secara bertahap, tetap memegang pakem sebagai titik rujukan. Tidak meninggalkan paugeran adalah hal yang penting.

Etika dan Tema, Wayang sebagai ‘Inventori Posisi Etis’. Tesis menekankan bahwa wayang kontemporer sering mengangkat tema-tema etis: lingkungan, politik, spiritualitas, relasi keluarga, posisi perempuan, dan kecemasan kaum muda. 

Ini sejalan dengan isi artikel saya, yang menuntut agar pesan dan nasihat tetap disampaikan. Dalam praktiknya, dalang muda dapat memakai format kontemporer untuk menyorot isu-isu ini secara relevan. 

Misalnya, memanfaatkan cerita klasik sebagai cermin masalah lingkungan modern atau kejatuhan etika publik, tetapi tetap memelihara pola wejangan, sindiran, dan suluk sebagai medium pendidikannya. Dengan begitu, wayang tetap berfungsi sebagai cermin moral masyarakat.

Etika Publikasi di Media adalah Saat menyiarkan potongan pementasan di media sosial, sertakan konteks dan pesan moral. Hindari potongan klip yang mengekspos aksi tanpa konteks yang justru merusak kesakralan.

Praktik Nyata: Menerjemahkan Komitmen ke Tindakan

Dari studi kasus dan pengalaman beberapa dalang eksperimental, termasuk praktik yang memperkenalkan bahan bahan baru atau format hibrida, kita belajar bahwa eksperimen memang perlu, karena dengan cara itu wayang menemukan bahasa baru. 

Namun eksperimen yang sehat mengikuti beberapa prinsip: pertama, pahami pakem secara mendalam; kedua, pastikan inovasi memperkaya, bukan menggantikan; ketiga, selalu jaga pesan moral sebagai roh pementasan.

Bagaimana prinsip-prinsip ini diterjemahkan ke praktik? Ada beberapa langkah operasional yang bisa dipraktikkan segera oleh dalang muda dan penyelenggara:

Strategi Hibridasi Bertingkat dan Kurasi

  • Hibridasi Bertingkat: Sediakan dua versi pementasan: versi penuh pakem untuk acara ritual, komunitas tradisional, atau dokumentasi akademik; dan versi padat yang dirancang untuk festival, sekolah, atau panggung publik yang ramah generasi muda. Dengan begitu, kita tidak memaksa satu format memenuhi semua kebutuhan.

  • Kurasi Kolaborasi: Kolaborasi lintas disiplin (musisi modern, desainer cahaya, sutradara teater) mesti melalui komite kecil yang memahami pakem atau didampingi sesepuh pedalangan. Kurasi ini mengurangi risiko inovasi yang kehilangan makna.

  • Pengukuran Dampak Kultural: Lakukan evaluasi sederhana setelah pementasan: apakah pesan sampai? Apakah audiens merasa terhubung secara emosional? Apakah unsur tradisional masih terasa? Data kualitatif seperti ini penting untuk menilai apakah perubahan bersifat konstruktif.

Pendidikan, Arsip, dan Tanggung Jawab Komunitas

  • Pendidikan dan Pembinaan Intensif: Workhsop tentang pathet, sabetan, suluk, etika dalang, dan sejarah wayang harus rutin diberikan kepada dalang muda. Pembinaan bukan hanya teknis, tetapi juga pembentukan sikap dan tanggung jawab budaya.

  • Dokumentasi dan Arsip Digital: Rekam dan arsipkan pementasan kontemporer baik versi penuh maupun adaptasi ringkas (digital archive) agar generasi mendatang bisa mempelajari proses inovasi tanpa kehilangan rujukan pakem. Tesis menunjukkan pentingnya arsip sebagai medium transfer ilmu.

Penutup: Cermin Jiwa dan Tuntunan Abadi

Humanisme adalah ruh wayang. Di dalam lakon, muncul empati terhadap pergulatan batin tokoh, kebijaksanaan yang disampaikan lewat suluk, kebersahajaan Semar yang mengajarkan kerendahan hati, serta kesadaran diri yang menolak perilaku berlebihan. 

Semua itu adalah pelajaran hidup yang tidak lekang oleh zaman. Ketika dalang muda memasukkan elemen-elemen kontemporer, pastikan mereka memperkuat dimensi humanis ini—bukan malah meredupkannya.

Tesis-tesis dan studi lapangan menegaskan hal-hal ini: eksperimen memang menambah kosa kata estetika wayang, namun tanpa rujukan pakem eksperimen itu menjadi sekadar fenomena estetis. Contoh konkret dari beberapa dalang yang berhasil adalah ketika mereka menggunakan material baru sebagai metafora-bukan sekadar dekorasi, sehingga material itu menambah lapisan makna. Di sinilah seni berpikir kritis menjadi penting: setiap inovasi harus bisa dijawab pertanyaan “mengapa” — mengapa ditambahkan, dan apa fungsi tambahannya pada pesan?

Kita tidak boleh menutup diri terhadap perubahan. Justru tugas kita adalah membimbing perubahan agar menjadi transformasi yang bermartabat. Menjadi kreatif bukan berarti meniru tren yang hanya bersifat sementar menjadi relevan bukan berarti kehilangan diri. Berenanglah dalam arus, tetapi pegang teguh paugeran. Ingat pesan leluhur: Ngana ya ngana, ing aja ngana.

Sebagai penutup, saya ingin menegaskan ajakan kepada semua pihak: para dalang, pembuat kebijakan budaya, akademisi, dan penikmat seni. Mari kita bangun ekosistem pedalangan yang memungkinkan inovasi namun menuntut tanggung jawab. 

Sediakan ruang eksperimen yang terukur; sediakan forum refleksi pasca-pementasan; latih generasi muda tidak hanya teknik, tetapi juga etika; dan dokumentasikan setiap langkah sehingga sejarah perubahan tercatat.

Wayang kontemporer bukan ancaman terhadap tradisi; ia adalah peluang untuk membuat tradisi berbicara lebih lantang di abad ini. Dengan kebijaksanaan, kerendahan hati, dan cinta kepada leluhur, kita dapat memastikan bahwa wayang tetap menjadi cermin jiwa—bukan sekadar bayangan di layar—tetapi pemandu yang memberi arah hidup bagi masyarakat yang berubah.